Makalah Bahasa Indonesia : Penalaran

MAKALAH BAHASA INDONESIA
BAB PENALARAN








Nama Kelompok :

Teguh Heri Purwanto





                                          FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS MURIA KUDUS


KUDUS


2015


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Bahasa Indonesia yang berjudul Penalaran. Rahmat dan salam kepada Rosulullah SAW, Beliaulah yang telah membawa kami dari kegelapan ke jalan yang terang.

Makalah ini dapat terselesaikan atas bantuan dan bimbingan dari semua pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu dalam penyelesaian laporan ini, terutama kepada :
1.   Bapak Dosen mata kuliah Bahasa Indonesia.
2.   Kedua orangtua yang senantiasa mendukung dan mendoakan untuk keberhasilan dan kesuksesan
3.   Teman-teman  semua  yang  senantiasa  mendukung  dan  membantu  penyelesaian makalah ini.
4.   Dan  semua  pihak  yang  telah  membantu  dan  membimbing  dalam  penyelesaian makalah.

Penulis  menyadari  bahwa  penulisan  makalah  ini  masih  jauh  dari  sempurna.  Untuk  itu, kritikan dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang berguna dalam perbaikan lebih lanjut sangat penulis harapkan.  Penulis berharap walau masih jauh dari sempurna, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan pembaca pada umumnya.











Kudus, 24 April 2015


BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang.



Penalaran adalah suatu proses berfikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk, atau eviden, ataupun sesuatu yang dianggap bahan bukti, menuju pada suatu simpulan. Penalaran atau reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpuan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui. Dalam pernyataan-pernyataan itu terdiri dari pengertia-pengertian sebagai unsurnya yang antara pengertian satu dengan yang lain ada batas-batas tertentu untuk menghindarkan kekabutan arti.

Secara umum penalaran atau pengambilan kesimpulan dapat dilakukan secara induktif dan deduktif. Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir  yang bertolak dari hal- hal khusus  kenuju suatu yang umum. Penalaran deduktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang umum menuju hal-hal yang khusus . Atau penerapan sesuatu yang umum pada peristiwa  yang khusus untuk mencapai sebuah kesimpulan. Dengan alasan seperti itulah penalaran sebagai suatu keterampilan, perlu dilatihkan dalam pembelajaran ketrampilan berbahasa , khususnya menulis deskripsi.

Menulis deskripsi pada hakikatnya merupakan usaha untuk menggambarkan dengan kata-kata   wujud  atasifat  lahiriah  dari  suatu  objek,  dan  berusaha memindahkan kesan-kesan hasil pengamatan dan perasaannya kepada pembaca, dengan membeberkan sifat dan semua perincian yang ada pada objek.Melukiskan objek itu sejelas-jelasnya sehingga objek itu betul-betul kelihatan hidup dan sanggup menumbuhkan  kesaatau  daya haya pada pembaca.  Tujuapenulisan  deskripsi yaitu menyajikan pengalaman yang seolah-olah pembaca menglami sendiri, melihat, mendengar dan merasakan apa yang dilukiskan penulis.

Dalam membuat suatu karangan ilmiah banyak membahas fakta  secara logis dan sistematik dengan tata bahasa yang baik dan benar. Berarti untuk menulis karangan ilmiah diperlukan kemampuan menalar secara ilmiah. Oleh karena itu kita perlu memahami prinsip-prinsip yang berlaku  didalam proses penalaran ilmiah. Dengan mempelajari penalaran, akan memperoleh pengetahuan mengenai  definisi,kalimat efektif,paragraph, dan pengembangan karangan.Melalui proses penalaran,kita dapat sampai pada kesimpulan yang mungkin berupa asumsi,hipotesis,teori, atau keputusan lainnya.


B.  Rumusan Masalah

1.   Apa Pengertian Penalaran?

2.   Apa saja bentuk Penalaran?

3.   Apa saja bentuk Penalaran Induktif?

4.   Apa saja bentuk Penalaran Deduktif?

5.   Salah Nalar

C.  Tujuan

1.   Menjelaskan mengenai penalaran.

2.   Apa saja bentuk Penalaran.

3.   Menjelaskan bentuk-bentuk penalaran induktif.

4.   Menjelaskan bentuk-bentuk penalaran deduktif.

5.   Menjelaskan mengenai salah nalar.


BAB II PEMBAHASAN
1.   Pengertian Penalaran

Penalaran adalah suatu proses berfikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk, atau eviden, ataupun sesuatu yang dianggap bahan bukti, menuju pada suatu simpulan. Dapat pula dinyatakan bahwa penalaran merupakan proses berpikir yang sistematik dan logis untuk memperoleh sebuah simpulan (pengetahuan atau keyakinan).  Bahan untuk membuat suatu simpulan dapat  berupa fakta,  informasi, pengalaman, atau pendapat para ahli(otoritas).
2.   Bentuk Penalaran

A.  Penalaran Induktif

Suatu proses berfikir yang bertolak dari hal yang khusus menuju sesuatu yang umum.
Contoh:

Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Babi berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Ikan paus berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.


B.  Penalaran Deduktif

suatu proses berfikir yang bertolak dari suatu yang umum menuju hal-hal yang khusus; atau penerapan suatu yang umum pada peristiwa yang khusus untuk mencapai  sebuah  simpulan.  Contoh:  Masyarakat  Indonesia  konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
C.  Penalaran Gabungan

penggabungan antara penalaran induktif dan penalaran deduktif.


3.   Bentuk Penalaran Induktif

A.  Generalisasi


Proses bernalar yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik simpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa yang bersangkutan. Contoh generalisasi :



·               Pemakaian bahasa Indonesia deseluruh daerah diindonesia dewasa ini belum dapat dikata seragam. Perbedaan dalam struktur kalimat, lagu kalimat, ucapan terlihan dengan mudah. Pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sering dikalahkan oleh bahasa daerah. Diungkapkan persurat kabaran, radio, dan TV pemakaian bahasa indonesia belum lagi dapat dikatakan sudah terjaga baik. Para pemuka kita pun pada umumnya juga belum memperlihatkan penggunaan bahasa Indonesia yang terjaga baik. Fakta fakta diatas menunjukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia perlu ditingkatkan.
·                 Jika dipanaskan, besi memuai. Jika dipanaskan, tembaga memuai. Jika dipanaskan, emas memuai. Jika dipanaskan, platina memuai.

B.  Analogi

Perbandingan  yang  menunjukkkan  kesamaan-kesamaan  antara  dua  barang atau sesuatu hal yang dibandingkan dengan pembandingnya memiliki kesamaan peran
atau fungsi.


Contoh Analogi:

·            Kita banyak tertarik dengan planel mars, karena banyak persamaannya dengan
bumi kita. Mars dan Bumi menjadi anggota tata surya yang sama. Mars mempunyai
atsmosfir seperti bumi. Temperaturnya hampir sama dengan bumi. Unsur air dan
oksigennya juga ada. Caranya mengelilingi matahari menyebabkan pula timbulanya
musim seperti bumi. Jika bumi ada mahluk. Tidaklah mungkin ada mahluk hidup
diplanet Mars.
·              Jika dipanaskan, logam memuai. Jika ada udara, manusia akan hidup. Jika ada
udara, hewan akan hidup. Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
·              Untuk menjadi seorang penari professional atau ternama dibutuhkan latihan
yang rajin dan ulet. Demikiannya dengan seorang atlit untuk dapat menjadi atlit
professional dan berprestasi dibutuhkan latihan yang rajin dan ulet. Oleh karena itu
untuk menjadi seorang penari maupun seorang atlit diperlukan latihan yang rajin dan
ulet.

C.  Hubungan Kausa (Sebab-Akibat)

Hukum  kausa  menyatan  bahwa  semua  peristiwa  yang  terjadi  di  dunia  ini terjalin dalam rangkaian sebab akibat.


Contoh:


·            Masalah pengangguran merupakan masalah serius yang harus diselesaikan
pemerintah, seperti beberapa waktu lalu diberitakan dimedia cetak dan ibu kota,
bagaimana ribuan pencari kerja hars berdesakan bahkankan pingsan untuk
mendapatkan pekerjaan. Menurut laporan media cetak hal ini terjadi karena dalam
waktu dekat ini banyak perusahaan menufaktor yang akan tutup. Sehingga harus
melakukan PHK. Selain itu minimnya kahlian atau rendahnya kualitas SDM menjadi
faktor penyebab banyaknya pengangguran diibukota.
·              Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.



4.   Bentuk Penalaran Deduktif

A.  Silogisme

Suatu proses penalaran yang menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan sebuah simpulan atau inferensi yang merupakan proposisi yang ketiga.
Contohnya:

Semua manusia akan mati

Amin adalah manusia

Jadi, Amin akan mati (konklusi / kesimpulan) B.  Entimen
Bagian silogisme yang dianggap telah dipahami, dihilangkan. Contoh :
Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari

Pada malam hari tidak ada matahari

Pada malam hari tidak mungkin ada proses fotosintesis

5.   Salah Nalar

A.  Pengertian Salah Nalar

Salah   nalar   adala Kekeliruan   dala proses   berfikir,   karena   keliru menafsirkan atau menarik simpulan. Biasanya kekeliruan ini terjadi karena faktor emosional, kecerobohan, atau ketidaktahuan.
B.  Jenis-jenis salah nalar

1.   Generalisasi yang Terlalu Luas


Kesalahan ini terjadi karena kurangnya data yang dijadikan sebagai acuan generalisasi,  sikamenggampangkan,  malamengumpulkadan  menguji  data


secara memadai, atau ingin segera meyakinkan orang lain dengan bahan yang terbatas. Ada dua jenis dalam kesalahan tersebut diantaranya:

A.  Generasisasi sepintas : Kesalahan yang terjadi ketika seseorang membuat generalisasi berdasarkan data atau evidensi yang sedikit.

B. Generalisasi  Apriori  :  Kesalahan  yanterjadi  ketika  seseorang  melakukan generalisasi atas gejala atau peristiwa yang belum diuji kebenaran atau kesalahannya.

2.   Kerancuan Analogi

Kesalahan ini terjadi disebabkan penggunaan analogi yang tidak tepat. Kesalahan ini disebabkan dua hal yang diperbandingkan tidak memiliki kesamaan esensial (pokok).


3.   Kekeliruan Kausalitas (Sebab-Akibat)

Kesalahan ini terkait dengan kekeliruan kausalitas , karena seseorang keliru menentukan dengan tepat sebab dari suatu peristiwa atau akibat dari suatu kejadian.


4.   Kesalahan Relevansi

Kesalahan ini terjadi apabila bukti, peristiwa, atau alasan yang diajukan tidak berkaitan atau tidak menunjang sebuah simpulan. Bentuk Kesalahan Relevansi diantaranya adalah:
A.  Pegabaian persoalan

B.  Penyembunyian persoalan

C.  Kurang memahami persoalan



5.   Penyandaran terhadap Prestise Seseorang

Kerap kali kita menggunakan atau mengutip pendapat para ahli atau pakar sebagai  bahan  acuan,  akan  tetapi  kita  perlu  sadari  bahwasannya  ahli  atau pakarpun seorang manusia yang memiliki yang namanya kesalahan.
Kesalahan dari pakar inilah yang kemudian menjadi sebuah kesalahan dalam salah nalar.


BAB III PENUTUP
A.  Kesimpulan


Aspek penalaran sangat diperhatikan dalam setiap penulisan karangan ataupun jenis tulisan lainnya karena itu, seorang penulis harus mengenal  kriteria dan mengetahui prinsip-prinsip proses penaksiran fakta dan kebenaran penarikan kesimpulan yang sah dalam tulisanyang dibacanya.

0 Response to "Makalah Bahasa Indonesia : Penalaran"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Pendidikan

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel