Makalah Tauhid : NALURI BERAGAMA PADA DIRI MANUSIA

http://4.bp.blogspot.com/-yExL8l0OQyw/T_S4JFzJHFI/AAAAAAAAANA/YlIEwNNbY50/s1600/al-quran-dan-iptek.jpg



by : Siti Marfuah dan Siti Zumaeroh



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
            Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kepada Allah swt, karena berkat ridho dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Naluri Beragama Pada Diri Manusia” tanpa ada suatu halangan.
            Sholawat dan salam senantiasa penulis sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad saw yang selalu kita nanti-nantikan syafaatnya di hari kiamat.
            Dalam penyusunan makalah ini banyak bantuan yang penulis terima. Oleh karena itu, penulis ucapan terima kasih kepada:
1.      Orang tua yang selalu memberi doa dan restu.
2.      Bapak Drs. Zumrodi, M. Ag selaku dosen mata kuliahTauhid Ilmu Kalam.
3.      Semua pihak yanng terkait dalam penulisan makalahini.

Kiranya segala kebaikan yang telah diberikan, mendapatkan balasan dari Allah swt.
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran masih penulis harapkan untuk perbaikan selanjutnya.
            Semoga makalah ini bermanfaat bagi perkembangan Tauhid Ilmu Kalam.
Wassalamualaikum Wr. Wb.


Pati,         Maret 2014


Penulis

I.               PENDAHULUAN
A.      LatarBelakang
Dalam al-Qur’an manusia berulang kali di angkat derajatnya namun berulang kali pula direndahkan. Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukkan alam namun mereka bisa juga merosot menjadi yang paling rendah dari segala yang rendah. Beberapa ayat al-Qur’an yang menggambarkan kondisi paradoks manusia antara lain :
“ Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”. (QS. At-Thin, ayat 1-3).
Allah SWT  juga telah menciptakan potensi kehidupan (thaqatul hayawiyah) pada diri manusia, yang berupa kebutuhan jasmani (Hajatul Adlawiyah),yang penampakanya berupa rasa lapar, rasa haus, menghirup udara dan lain-lain dan kebutuhan naluri (Al-Gharizah), yang terdiri dari naluri beragama (Gharizatut Taddayun),naluri mempertahankan diri (Gharizatul Baqa) dan naluri melangsungkan keturunan (Gharizatun Nau’).

B.       RumusanMasalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.         Bagaimana hakikat manusia?
2.         Bagaimana hakikat naluri beragama pada diri manusia?
C.       Tujuan
                 Tujuan yang akan dicapai dalam penulisan makalah:
1.         Menjelaskan hakika tmanusia.
2.         Menjelaskan hakikat naluri beragama pada diri manusia.
D.      Manfaat
     Manfaat yang diharapkan dari pembahasan topik ini adalah:
1.      Meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang hakikat manusia.
2.      Meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang hakikat naluri beragama pada diri manusia.
II.      PEMBAHASAN
A.      Hakikat Manusia
Al-Qur’an mengungkap manusia dalam tiga istilah, yaitu :
a.       Al-Basyar
b.      Al- Nas, al-ins, dan al-insan
c.       Banu Adam dan Dzurriyah Adam
Dalam ensiklopedi semua kata tersebut mempunyai arti yang sama yaitu manusia. Para mufassir juga mengatakannya demikian. Tetapi bila dikembalikan kepada rasa bahasa (dzawq), meskipun secara arti sama,namun secara hakikat istilah-istilah tersebut memiliki perbedaan satu dengan yang lain, demikian menurut Bint al-Syathi. Untuk mendukung pendapatnya ia merujuk kepada al-Quran yang mengungkap tentang penjelasan istilah-istilah tersebut. Pengungkapan al- Quran tentang istilah-istilah di atas bisa diuraikan sebagai berikut.
a.         Al-Basyar
Menurut bahasa kata al-basyar tersusun dari akar kata ba’, syin, dan ro’ , yang berarti “sesuatu yang tampak baik dan indah” atau “bergembira, menggembirakan atau menguliti/mengupas (buah)” atau memperhatikan dan mengurus sesuatu”. Menurut al-Roghib, kata basyar adalah bentuk jamak dari kata basyiroh yang artinya “kulit”. Manusia disebut basyar karena memiliki kulit yang permukaannya ditumbuhi rambut dan berbeda dengan kulit pada hewan yang umumnya ditumbuhi bulu. Kata ini dalam al-Quran digunakan dalam makna yang khusus untuk menggambarkan sosok tubuh lahiriah manusia.
Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Bint al Syathi. Menurutnya, kata basyar merujuk pada pengertian manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluk jasmaniah, yang secara fisik memiliki persamaan dengan makhluk lainnya, membutuhkan makan dan minumuntuk hidupnya.[1]
Jadi, pada intinya al-basyar itu berarti menunjuk pada aspek realitas manusia sebagai pribadi dan sekaligus sebagai makhluk biologis.
b.         Al-Nas, Al- Ins, Al-Insan
Kata al-nas dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali, yang dengan jelas menunjuk pada pengertian manusia sebagai keturunan Adam AS. Al nas dalam konteks ini dipandang dari aspeknya sebagai makhluk sosial.[2]
Sedangkan kata al-ins dan al-insan keduanya bersal dari satu akar kata,tapi bila dilihat dari segi penggunaannya dalam al-Qur’an mempunyai arti yang berbeda, yaitu penggunaan kata al-ins yang memiliki arti manusia dapat diindera dan tidak liar, sedangkan al-insan lebih mengacu pada peningkatan ke derajat yang dapat memberinya potensi dan kemampuan untuk memangku jabatan khalifah dan memikul beban tanggung jawab dan amanat manusia di muka bumi, karena sebagai khalifah manusia dibekali dengan ilmu, persepsi, akal dan nurani.
Hal lain yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah dibekalinya manusia dengan ilmu pengetahuan. Disinilah letak salah satu perbedaan antara manusia dengan makhluk lainnya.
c.         Banu Adam dan dzurriyah Adam
Kata Banu berasal dari akar kat ba’, nun dan ya’ yang berarti sesuatu yang lahir dari yang lain, dan kata dzurriyah berasal dari kata dzal, ro’ dan ro’ yang berati halus, lembut dan tersebar. Kedua istilah ini diartikan dengan manusia karena dikaitkan dengan kata Adam, yakni bapak manusia (abu al basyar) sebagai manusia pertama yang diciptakan Tuhan dan mendapatkan penghormatan makhluk-Nya yang lain kecuali iblis.
Masalah ketidak tundukan iblis ini diungkapkan al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah: 34
Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat : “sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur, dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Secara umum kedua istilah tersebut menunjukkan arti keturunan yang berasal dari Adam, atau dengan kata lain kedua istilah tersebut menunjukkan bahwa secara historis asal usul manusia adalah satu. Bedanya, istilah Banu Adam secara spesifik mengacu kepada adanya hubungan darah seluruh umat manusia, sedangkan istilah dzurriyahAdam mengacu kepada makna keragaman manusia yang tersebar dalam berbagai suku, bangsa dan warna kulit yang berbeda.[3]
B.       Naluri Beragama pada Diri Manusia
Allah SWT  juga telah menciptakan potensi kehidupan (thaqatul hayawiyah) pada diri manusia, yang berupa kebutuhan jasmani (Hajatul Adlawiyah),yang penampakanya berupa rasa lapar, rasa haus, menghirup udara dan lain-lain dan kebutuhan naluri (Al-Gharizah), yang terdiri dari naluri beragama (Gharizatut Taddayun),naluri mempertahankan diri (Gharizatul Baqa) dan naluri melangsungkan keturunan (Gharizatun Nau’).[4]
Sebagaimana yang telah kita tahu bersama, bahwa manusia mempunyai naluri sebagai hewan beraqidah atau secara naluriah manusia adalah hewan yang beragama. Sebagaimana juga telah diterangkan, bahwa aqidah agama ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan sejak awal pembentukan psichis dan mental manusia.[5]
Di dalam diri manusia terdapat suatu potensi hidup (dorongan/semangat) yang senantiasa mendorong melaksanakan kegiatan serta menuntut pemuasan. Potensi tersebut memiliki dua bentuk manifestasi. Yang pertama, menuntut adanya pemuasan yang bersifat pasti, jika tidak terpenuhi maka manusia dapat binasa. Inilah yang dinamakan ‘kebutuhan jasmaniah’ (haajatul ‘udhuwiyah) seperti makan, minum, dan membuang hajat. Yang kedua, menuntut adanya pemenuhan saja, tetapi jika tidak dipenuhi manusia tidak akan mati, melainkan akan merasa gelisah, sehingga terpenuhinya kebutuhan tersebut. Inilah yang dinamakan ‘naluri’ (gharizah).
Naluri beragama merupakan naluri yang tetap ada dalam diri manusia. Sebab, naluri ini merupakan perasaan membutuhkan kepada Sang Pencipta Yang Maha Kuasa yang mengaturnya, tanpa memandang siapa yang dianggap Sang Pencipta tersebut. Perasaan ini bersifat fitri yang selalu ada selama ia menjadi manusia. Baik ia (orang yang) beriman terhadap Khaliq atau ia kufur terhadap-Nya, namun beriman kepada materialisme dan naturalisme. Perwujudan perasaan ini dalam diri setiap manusia bersifat pasti (harus muncul). Sebab, perasaan ini tercipta sebagai salah satu bagian dari penciptaan manusia, sehingga tidak mungkin memisahkannya atau menghilangkannya dari diri manusia. Itulah yang disebut tadayyun (perasaan beragama).[6]
Bukti bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi beragama ini dapat pula dilihat dari bukti-bukti historis dan antropologis. Melalui bukti-bukti historis dan antropologis itu kita dapat mengetahui bahwa pada kehidupan masyarakat primitif yang kepadanya tidak pernah datang informasi mengenai Tuhan, ternyata mereka mempercayai adanya Tuhan, sungguhpun Tuhan yang mereka percayai itu terbatas pada daya khayal mereka. Misalnya, mereka mempertuhan benda-benda alam yang menimbulkan kesan misterius dan mengagumkan. Kepercayaan demikian selanjutnya disebut sebagai agama dinamisme. Selanjutnya kekuatan misterius itu mereka pahami sebagai ruh atau jiwa yang memiliki karakter dan kecenderungan baik dan buruk. Kepercayaan demikian selanjutnya disebut sebagi agama animisme. Dalam perkembangan selanjutnya, ruh atau jiwa tersebut kemudian mereka personifikasikan dalam bentuk dewa-dewa yang jumlahnya banyak dan oleh karena itu disebut agama politheisme. Fakta historis dan antropologis ini membuktikan bahwa manusia benar-benar memiliki potensi bertuhan.[7]
Adapun perwujudan dari tadayyun adalah adanya perasaan taqdis (pensucian) terhadap Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, atau terhadap segala sesuatu yang digambarkannya sebagai penjelmaan dari Sang Pencipta. Kadang kala ‘taqdis’ itu terwujud dalam bentuk yang hakiki (sempurna), sehingga menjadi suatu ‘ibadah’. Tetapi terkadang pula terwujud dalam gambaran/bentuk yang sederhana, sehingga hanya menjadi sebuah kultus atau pengagungan. Taqdis adalah penghormatan setulus hati yang paling tinggi, yaitu bukan penghormatan yang berasal dari rasa takut, tetapi berasal dari perasaan tadayyun. Sebab, taqdis bukan merupakan manifestasi dari rasa takut. Manifestasi dari rasa takut tidak lain adalah kegelisahan, pelarian, atau usaha untuk membela diri. Hal ini jelas bertentangan dengan hakikat (kenyataan) taqdis. Dengan demikian, taqdis adalah manifestasi dari perasaan tadayyun bukan dari rasa takut.[8]
III.          PENUTUP
Al-Qur’an mengungkap manusia dalam tiga istilah, yaitu :
a.      Al-Basyar
b.      Al- Nas, al-ins, dan al-insan
c.     Banu Adam dan Dzurriyah Adam
Di dalam diri manusia terdapat suatu potensi hidup (dorongan/semangat) yang senantiasa mendorong melaksanakan kegiatan serta menuntut pemuasan. Potensi tersebut memiliki dua bentuk manifestasi. Yang pertama, menuntut adanya pemuasan yang bersifat pasti, jika tidak terpenuhi maka manusia dapat binasa. Inilah yang dinamakan ‘kebutuhan jasmaniah’ (haajatul ‘udhuwiyah) seperti makan, minum, dan membuang hajat. Yang kedua, menuntut adanya pemenuhan saja, tetapi jika tidak dipenuhi manusia tidak akan mati, melainkan akan merasa gelisah, sehingga terpenuhinya kebutuhan tersebut. Inilah yang dinamakan ‘naluri’ (gharizah).
Naluri beragama merupakan naluri yang tetap ada dalam diri manusia. Sebab, naluri ini merupakan perasaan membutuhkan kepada Sang Pencipta Yang Maha Kuasa yang mengaturnya, tanpa memandang siapa yang dianggap Sang Pencipta tersebut. Perasaan ini bersifat fitri yang selalu ada selama ia menjadi manusia. Baik ia (orang yang) beriman terhadap Khaliq atau ia kufur terhadap-Nya, namun beriman kepada materialisme dan naturalisme. Perwujudan perasaan ini dalam diri setiap manusia bersifat pasti (harus muncul). Sebab, perasaan ini tercipta sebagai salah satu bagian dari penciptaan manusia, sehingga tidak mungkin memisahkannya atau menghilangkannya dari diri manusia. Itulah yang disebut tadayyun (perasaan beragama).

DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghoniy Abud Abdu, Aqidah Islam Versus Ideologi Manusia, Ponorogo: Trimurti Press, 1992.
Mufid Fathul, Ilmu Tauhid / Kalam, Kudus: STAIN KUDUS, 2009.
Muchtar Aflatun, Tunduk kepada Allah, Jakarta Selatan: KhazanahBaru, 2001.
http://Arsya.wordpress.com/2010/03/naluri-agama.html di unduh pada tanggal 15 Maret 2014.


[1] Aflatun Muchtar, Tunduk Kepada  Allah, (Jakarta Selatan: Khazanah Baru,2001) hlm.104.

[2]Ibid, hlm.106.

[3]Aflatun Muchtar, Log.Cit, hlm. 109.
[5]Abdu Al-Ghoniy Abud, Aqidah Islam Versus Ideologi Manusia, (Ponorogo: Trimurti Press, 1992) hlm. 32.
[7]Fathul Mufid, Log.Cit, hlm. 21.

0 Response to "Makalah Tauhid : NALURI BERAGAMA PADA DIRI MANUSIA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Pendidikan

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel