Kenakanlan pada remaja




Disusun Oleh :
SINDHU NUGROHO


PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Manusia dalam menjalani hidup ini pasti melewati masa remaja Dalam masa remaja inilah manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang bersangkutan dengan otak, kemampuan berfikir, perkembangan sikap dan perasaan atau emosi, perkembangan minat atau cita-cita serta perkembangan pribadi, sosial dan moral.[1]
Pada masa remaja adalah masa di mana manusia masih dalam proses pencarian jati diri dan pada saat itu juga manusia sedang menghadapi ketidakstabilan keadaan perasaan dan emosi serta hal yang berkaitan dengan sikap dan moral, maka tidak heran jika akhir-akhir ini banyak sekali terjadi tindak kriminal dalam masyarakat yang pelakunya sebagian besar adalah remaja yang dikenakan dengan istilah kenakalan remaja. Hal ini dikarenakan dalam diri remaja masih terdapat gejolak emosi yang tak terkendali, kemampuan berfikir dalam masa remaja lebih dikuasai oleh emosinya sehingga kurang mampu mengadakan konsesus dengan pendapat orang lain yang bertentangan dengan pendapatnya. Akibatnya masalah yang menonjol adalah pertentangan sosial.
Pada dasarnya kenakalan remaja merupakan suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat. Atau dapat juga dikatakan bahwa kenakalan remaja adalah suatu bentuk perilaku yang menyimpang. Perilaku menyimpang juga dapat dilihat sebagai perwujudan  dari koteks social dan perilaku menyimpang tidak dapat dilihat seca
ra sederhana sebagai tindakan yang tidak layak malainkan lebih dari itu harus dilihat sebagai hasil interaksi dari transaksi yang tidak benar antara seseorang dengan lingkungan sosial.
                 Saat ini baik di kota maupun  di desa perilaku remaja meimbulkan gangguan atau masalah dalam masyarakat yang dikenal juga dengna istilah kenakalan remaja. Beranekaragam sekali bentuk – bentuk kenakalan remaja ini. Semisal , minum – minuman keras, pencurian, tawuran antar kelompok remaja, dan perjudian. Di desa Sidokerto contohnya, di desa tersebut penulis melihat para remajanya sering melakukan perilaku yang menyimpang. Seperti meminum – minuman keras dan hampir setiap hari penulis melihat sekelompok remaja berkumpul sambil menikmati minuman keras. Kenakalan lainnya yang mereka lakukan adalah melakukan pencurian dan hasil curian tersebut dijual kemudian uangnya dipakai untuk membeli minuman keras.
                 Bentuk kenakalan  lain yang juga sering dilakukan oleh mereka yaitu melakukan tawuran antar kelompok remaja berawal dari suatu masalah kecil seperti saling mengejek. Adapun perjudian merupakan kenakalan yang sudah menjadi hobi mereka. Padahal kalau dilihat dari agama masyarakatnya sangat kuat, dan jika dilihat dari pekerjaan masyarakatnya adalah petani dn banyak waktu luang bagi petani untuk mengawasi, member perhatian dan pengarahan serta mencurahkan kepedulian pada anak-anaknya.
                 Jumlah keseluruhan remaja Desa Sidokerto adalah 200 remaja, yang terdiri dari 150 Remaja Perempuan dan 50 remaja laki-laki. Dari jumlah keseluruhan remaja Desa Sidokerto tersebut 40 % remaja tergolong remaja yang melakukan penyimpangan dalam masyarakat.
                 Melihat kepada kondisi masyarakat Sidokerto agama masyarakat sangat kuat. Kegiatan – kegiatan agama dimana-mana, di musholla – musholla dan di masjid-masjid baik itu kegiatan agama harian maupun mingguan. Namun semua itu tidak berpengaruh terhadap perilaku remajanya. Dalam hal ini, apa yang memengaruhi sebagian remaja Desa Sidokerto melakukan penyimpangan.
                 Jika kembali kepada pemahaman tentang masa remaja yaitu masa pencarian jatidiri atau pencarian identitas diri dan juga dalam masa perkembangan yang serba sulit dan masa-masa membingungkan dirinya. Remaja membutuhkan pengertian , pengarahan, dan bantuan dari orang yang dicintai dan dekat dengannya terutama orang tua atau keluarganya yang dapat memberikan pengayoman sehingga menjamin rasa aman. Dalam perkembangan keremajaan perhatian dan pengarahan dari keluarga remaja merasa aman dan merasa punya pegangan dalam menjalani hidupnya. Dan bisa dilihat bahwa dewasa ini, banyak sekali kenakalan remaja tumbuh dari para remaja yang kurang perhatian dari keluarganya sendiri, mereka merasa keluarga mereka tidak peduli terhadap kehidupan mereka. Maka dari itu dengan merasa kurang mendapat perhatian dan kepedulian dari keluarga mereka sendiri mereka berbuat semaunya sendiri yang akhirnya menjerumuskan mereka kepada perilaku – perilaku yang menyimpang dalam masyarakat.
                 Dalam keadaan yang normal maka lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah orang tuanya, saudara-saudaranya yang lebih tua, serta mungkin kerabat dekatnya yang tinggal serumah. Melalui lingkungan itulah si anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari. Melalui itulah anak mengalami proses sosialisasi awal. Orang tua, saudara maupun kerabat dekat lazimnya mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak supaya anak memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang benar dan baik, melalui penanaman disiplin dan kebebasan serta penyerasiannya. Pada saat ini orang tua, saudara maupun kerabat ( secara sadar atau setengah sadar) melakukan sosialisasi yang bisa diterapkan melalui kasih sayang.[2]
                 Membiarkan anak atau remaja bertindak semaunya sendiri juga buruk dan tidak benar. Mereka memerlukan tuntunan orang tua, saudara-saudaranya, maupun kerabat dekatnya. Akan tetapi tuntunan itu tidak diperolehnya. Lingkungan yang berpola pikiran demikian tidak memberikan motivasi dan keberhasilan studi, karena dilepas begitu saja.[3]
                 Desa Sidokerto merupakan suatu Desa di Kecamatan Pati Kabupaten Pati. Dilihat dari sisi agama masyarakat disana, agama masyarakatnya sangat kuat, dan jika dilihat dari pekerjaan masyarakat disana mayoritas pekerjaannya adalah tani. Dengan pekerjaan sebagai petani banyak sekali waktu luang untuk mengawasi member pengarahan dan waktu untuk mecurahkan perhatian dan kepedulian kepada anak-anaknya. Kenyataan yang terjadi di Desa Sidokerto dikalangan remajanya sangatlah bervariasi, baik dalam perilaku keagamaannya maupun moralitasnya. Ada perilaku keagamaannya baik tetapi moralitasnya kurang baik. Seperti minum-minuman keras., perjudian, pencurian, dan tawaran antar kelompok remaja.
                 Masalah dalam penelitian ini adalah factor apa yang memengaruhi kenakalan remaja pada Desa Sidokerto Kecamatan Pati Kabupaten Pati. Maka judul penelitian ini adalah “KENAKALAN REMAJA DI DESA SIDOKERTO KECAMATAN PATI KABUPATEN PATI”.

B.     Rumusan Masalah
     Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu: factor apa yang memengaruhi kenakalan yang dilakukan remaja Desa Sidokerto Kecamatan Pati Kabupaten Pati.

C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitan
Dengan melihat latar belakang penelitian serta rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas maka tujuan penelitian ini dilakukan dalam rangka untuk mengidentifikasi dan mengetahui factor apakah yang memengaruhi kenakalan yang dilakukan remaja Desa Sidokerto Kecamatan Pati Kabupaten Pati.
2.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memenuhi antara lain :
a.       Secara teoritis hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pengayaan khazanah bagi pengembangan pendidikan dalam keluarga sehingga orang tua memiliki pandangan alternative dalam membimbing anak secara tepat untuk bijaksana.
b.      Secara praktis hasil penelitian ini dapat menjadi Remaja untuk membenahi karakter atau sifat diri sendiri sedangkan untuk orang tua memperoleh informasi kenakalan Remaja.
c.       Penelitian ini juga merupakan kesempatan bagi penulis untuk belajar mengaplikasikan teori-teori yang telah penulis dapatkan selama ini dibandingkan perkuliahan khususnya prodi Sosiologi.
d.      Bagi pemerintah Desa hasil penelitian ini dapat memberikan konstributif positif dalam mengatasi kenakalan remaja.

D.    Telaah Pustaka
Dalam objek yang akan penulis bahas nanti yaitu tentang kenakalan remaja sebatas sepengetahuan penulis sudah banyak yang membahas tentang kenakalan remaja namun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah lokasi penelitian serta kondisi lingkungannya yakni di Desa Sidokerto agama masyarakatnya sangat kuat namun mengapa sebagian remaja Desa Sidokerto melakukan penyimpangan. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor apa saja yang memengaruhi kenakalan remaja di Desa Sidokerto Kecamatan Pati Kabupaten Pati.
Untuk melengkapi penelitian dan mengetahui posisi penulis dalam melakukan penelitian ini maka penulis berusaha untuk melakukan review terhadap beberapa literature yang ada kaitannya atau relevan terhadap masalah yang menjadi  objek penelitian diantaranya sebagai berikut:
Pertama dalam skripsi yang berjudul “Bimbingan dan Konseling Anak Remaja Nur Bani Sukemi” yang disusun oleh Warsito. Penelitian ini menyatakan kenakalan remaja merupakan suatu pelanggaran batas-batas konsep nilai dan kewajaran yang berlaku dalam masyarakat yang dapat berarti menyimpang bertentangan bahkan merusak norma-norma yang  ada.[4]
Kedua skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Kemampuan Mengontrol Diri Dan Kecenderungan Berperilaku Delikuensi Pada Remaja “ penelitiannya Elfida menunjukan bahwa remaja non deliquensi memiliki control diri lebih tinggi dibandingkan dengan para remaja deliquensi. Mereka mampu mengarahkan energy emosinya kearah hal-hal yang bermanfaat dan menyesuaikan diri dengan aturan-aturan social cenderung memiliki control yang kuat terhadap emosi dan perilakunya. Umumnya semua deliquensinya yang dilakukan oleh para remaja Deliquensi merupakan mekanisme kompersatonis mendapatkan pengakuan terhadap egonya disamping digunakan sebagai kompensasi pembalas dan perasaan minder (komplek interior) yang ingin ditebusnya dengan tingkah laku merasa paling hebat atau rasa ingin menonjolkan diri aneh-aneh dan criminal.[5]
Ketiga skripsi dengan judul “Kenakalan Remaja Muslim Dalam Konteks Perubahan Sosial di Desa Karangwaluh Kecamatan Temon Kabupaten Kulon Progo” yang disusun oleh Mashud Saragih. Secara  garis besar skripsi ini membahas tentang penyimpangan yang dilakukan oleh remaja musli, Desa Karangwaluh dan factor pendorong mereka melakukan tindakan tersebut.[6]
Skripsi keempat dengan judul “Kenakanalan Remaja Yogyakarta” yang disusun oleh Rini Wahyuni. Dalam skripsi tersebut membahas tentang kenakalan remaja yang dilakukan oleh siswa MAN Godean Yogyakarta. Kenakalan remaja MAN godean Yogyakarta dapat digolongkan pada perilaku menyimpan yang berupa mengkonsumsi obat-obatan terlarang seperti narkoba dan perjudian seperti yang dilakukan mereka bersama-sama (6 siswa) pada jam sekolah atau diluar jam sekolah. Dan dalam skripsi tersebut juga diabahas tentang beberapa factor yang mempengaruhi kenakalan remaja di MAN Godean Yogyakarta baik secara internal memberikan dampak berupa gangguan berfikir, sehingga berdampak pada ketidak stabilan emosi/perasaan. Sedangkan secara eksternal kenakalan siswa banyak dipengaruhi oleh factor lingkungan baik lingkungan keluarga, sekolah, maupun mendominasi pengaruh kenakalan siswa yang terjadi adalah sisi eksternal.[7]

E.     Kerangka Teori
Penelitian ini menggunakan teori sosiogenis yaitu teori yang menjelaskan tentang kenakalan remaja adalah murni sosiologis atau sosial psikologis. Misalnya disebabkan oleh pengaruh struktur sosial yang deviatif, tekanan kelompok, peranan sosial, status sosial atau oleh internalisasi simbolis yang keliru. Maka factor-faktor cultural dan sosial itu sangat memengaruhi bahkan mendominasi struktur lembaga-lembaga sosial dan peranan sosial setiap individu di tengah masyarakat status individu di tengah kelompoknya partisipasi sosial dan pendefinisian – diri atau konsep dirinya. Sehingga teori ini dapat dijadikan sebagai alat untuk analisa beberapa factor yang memengaruhi kenakalan remaja karena terkait dengan struktur sosial tekanan kelompok peranan sosial dan internalisasi simbolis yang keliru.
Dalam buku karangan Kartini Kartono yang berjudul patologi sosial 2 : kenakalan remaja buku ini mengulas tentang bentuk – bentuk tingkah laku menyimpang sosial yang dilakukan oleh anak-anak remaja. Salah satu bentuk penyimpangan sosial tersebut adalah masalah kejahatan remaja (juvenile delinquency) dan perkelahian antar kelompok anak-anak muda.
Dalam buku ini juga dibahas tentang keberadaan proses pendidikan dalam usaha mencari jalan yang memadai untuk mencegah, menanggulangi, memperbaiki kembali dan mensosialisasikan anak-anak deliquens. Keberadaan pendidikan formal, informal dan nonformal yang ditangani secara terencana dan sungguh – sungguh dapat memberikan sumbangan dan konstruktif dalam upaya dan usaha penting tersebut. Pendidikan dalam pengertian intergral dan fotolistik dapat pemandu ulama dalam usaha tersebut disamping aspek-aspek yang relevan.
Gunarso mengemukakan tujuh cirri remaja yaitu remaja yang berada dalam kegoncangan terjadi pertentangan dalam dirinya keinginan besar mencoba hal-hal yang belum diketahuinya ingin mencoba apa yang dikehendakinya ingin menjelajah kealam sekitar yang lebih luas menghayal dan berfantasi dan mempunyai aktifitas yang berkelompok.[8]
Kejahatan  remaja yang merupakan gejala penyimpangan dan patalogis secara sosial itu juga dapat dikelompokan dalam satu kelas defektif secara sosial dan mempunyai sebab-musabab yang majemuk jadi sifatnya multikausal. Kenakalan remaja yang sering terjadi di dalam masyarakat bukanlah suatu keadaan yang berdiri sendiri. Kenakalan remaja tersebut timbul karena adanya beberapa sebab dan tiap-tiap sebab-sebab dan tiap – tiap sebaba dapat ditanggulangi dengan  cara-cara tertentu.
Istilah kenakalan remaja berasal dari istilah bahasa inggris “juvenile delinquent)  dua kata ini selalu digunakan secara bebarengan. Istilah ini bermakna remaja yang nakal. Juvenile berarti anak muda dan delinquent artinya perbuatan salah satu perilaku menyimpang.
Pembahasan tentang kenakalan remaja telah didekati secara antar disiplin ilmu baik dari segi rumusan maupun segi pembinaan dan penanggulangannya. Istilah kenakalan remaja merupakan penggunaan lain dari istilah kenakalan anak sebagai terjemahan dari “juvenile delinquent”. Menurut Simanjutak, suatu perbuatan disebut delinquent apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma masyarakat  dimana ia hidup suatu perbuatan yang anti sosial dimana di dalamnya terkandung unsur-unsur anti normative. Sedangkan menurut Bimo Walgito merumuskan arti selengkapnya dari “juvenile delinquent” yakni  tiap perbuatan yang bila dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi perbuatan yang melawan hokum yang dilakukan oleh anak khususnya anak remaja.13
Perbuatan atau perilaku remaja yang menyimpang dari norma-norma hukum dan menyimpang dari norma-norma dalam masyarakat, maka perbuatan atau perilaku remaja tersebut termasuk dalam kenakalan remaja. Sudarsono juga memperjelas tentang bentuk-bentuk perilaku atau perbuatan remaj yang termasuk dalam kenakalan remaja, beliau mengatakan, bahwa, juvenile delinquency (kenakalan remaja) bukan hanya merupakan perbuatan anak yang melawan hukum semata, akan tetapi juga termasuk di dalamnya perbuatan yang melanggar norma masyarakat. Dewasa ini sering terjadi seorang anak digolongkan sebagai  delinquent jika pada anak tersebut tampak adanya kecenderungan – kecenderungan anti sosial yang sangat memuncak sehingga perbuatan-perbuatan tersebut menimbulkan gangguan gangguan terhadap keamanan. Ketentraman dan ketertiban masyarakat, misalnya pencurian, pembunuhan , penganiayaan, pemerasan , penipuan, penggelapan, dan gelandangan serta perbuatan-perbuatan lain yang dilakukan oleh anak remaja yang meresahkan masyarakat.
Selain itu Zakiah Daradjat mengelompokan kenakalan menjadi dua jenis kenakalan yaitu : kenakalan ringan (keras kepala, tidak patuh pada orang tua bolos sekolah tidak mau belajar, sering berkelahi, suka berkata –
kata tidak sopan cara berpakaian yang mengganggu ketrentaman dan kenyamanan orang lain). Kenakalan berat (mencuri, merusak milik orang lain, ngebut, minum – minuman keras dan kenakalan seksual yaitu tindakan asusila terhadap lawan jenis, tindakan asusila terhadap remaja orang sejenis).
Dalam kehidupan masyarakat ada suatu kelompok masyarakat terkecil yaitu keluarga. Namun peranan dari kelompok masyarakat terkecil tersebut sangat penting dalam perkembangan anak. Agus Sujanto dalam bukunya sudarsono mengatakan keluarga merupakan lingkungan yang terdekat untuk membesarkan mendewasakan dan didalamnya anak mendapatkan pendidikan yang pertama kali. Keluarga merupakan kelompok masyarakat terkecil.akan tetapi merupakan lingkungan terkuat bagi anak yang belum sekolah. Oleh karena itu keluarga memiliki peranan yang penting terhadap perkembangan anak keluarga yang baik akan berpengaruh positif bagi perkembangan anak, sedangkan keluarga yang jelek akan berpengaruh negative. Oleh karena itu sejak kecil anak dibesarkan keluarga dan untuk seterusnya, sebagian besar waktunya adalah didalam keluarga maka sepantasnya kalau kemungkinan timbulnya  delinquency itu sebagian besar juga berasal dari keluarga.
Kejahatan remaja yang merupakan gejala penyimpangan dan patologis secara social itu juga dapat dikelompokan dalam satu kelas defektif secara social dan mempunyai sebab-musibab yang majemuk jadi sifatnya multikausal.[9] Kenakalan remaja yang sering terjadi di dalam masyarakat bukanlah suatu keadaan yang berdiri sendiri. Kenakalan remaja tersebut timbul karena adanya beberapa sebab dan tiap-tiap sebab dapat ditanggulangi dengan cara – cara tertentu.[10]
Istilah kenakalan remaja berasal dari  istilah bahasa inggris “juvenile delinquent” dua kata ini selalu digunakan dengan cara bebarengan. Istilah ini bermakana remaja yang nakal. [11]Juvenile adalah anak muda dan delinquent artinya perbuatan salah atau perbuatan menyimpang.[12]
Pembahasan tentang kenakalan remaja telah didekati secara antar disiplin ilmu baik dari segi rumusan maupun segi pembinaan dan penanggulangannya. Istilah kenakalan remaja merupakan penggunaan lain dari istilah kenakalan anak sebagai terjemahan dari “juvenile delinquency”. Menurut Simanjuntak, suatu perbuatan disebut delinquent apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma masyarakat diman ia hidup, suatu perbuatan yang anti sosial di mana di dalamnya terkandung unsur-unsur anti normative. Sedangkan menurut Bimo Walgito merumuskan arti selengkapnya dari “juvenile delinquency” yakni: tiap perbuatan yang bila dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi perbuatan yang melawan hokum yang dilakukan oleh anak, khususnya anak remaja.[13]
Perbuatan atau perilaku remaja yang menyimpang dari norma-norma hokum dan menyimpang dari norma-norma dalam masyarakat, maka, perbuatan atau perilaku remaja tersebut termask dalam kenakalan remaja. Sudarsono jugamemperjelas tentang bentuk-bentuk perilaku atau perbuatan remaja yang termasuk dalam kenkalan remaja, beliau mengatkan bahwa, juvenile delinquency (kenakalan remaja) bukan hanya merupakan perbuatan anak yang yang melawan hukum semata, akan tetapi juga termasuk di dalamnya perbuatan yang melanggar norma masyarakat. Dewasa ini sering terjadi seorang anak dogolongkan sebagai delinquent jika pada anak tersebut tampak adanya kecenderungan-kecenderungan anti social yang sangat memuncak sehingga perbuatan-perbuatn tersebut menimbulkan gangguan-gangguan terhadap keamanan, ketentraman dan ketertiban masayarakat, misalnya pencurian, pembunuhan, penganiayaan, pemerasan, penipuan, penggelapan, dan gelandangan serta perbuatan-perbuatan lain yang dilakukan oleh anak remaja yang meresahkan masyarakat.[14]
Selain itu Zakiah Deradjat mengeempokkan kenkaalan menjadi dua jenis kenakalan yaitu : kenkalan ringan (keras kepala, tidak patuh pada orang tua, bolos sekolah, tidak mau belajar, sering berkelahi, suka berkata-kat tidak soapn, cara berpakaina yang menggangu ketemtraman dan kenyamanan orang lain). Kenakalan berat (mencuri, memfitnah, merusak milik orang lain, ngebut, minum-minuman keras, dan kaenakalan seksual yaitu tindakan susila terhadap lawan jenis tindakan susila terhadap remaja orang sejenis.[15]
Dalam kehidupan masyarakat ada suatu kelompok masyarakat terkecil yaitu keluarga, namun peranan dari kelompok masyarakat terkecil tersebut sangat penting dalam perkembangan anak. Agus Sujanto dalam bukunya sudarsono mengatakan keluarga mengatakan, keluarga merupakan lingkungan yang terdekat untuk membesarkan, mendewasakan, dan didalamnya anak mendapatkan pendidikan yang pertama kali. Keluarga merupakan kelompok masyarakat terkecil, akan tetapi merupakan lingkungan paling kuat dalam  membesarkan anak terutama bagi anak yang belum sekolah. Oleh karena itu keluarga memiliki peranan yang penting dalam perkembangan anak. Sedangkan keluarga yang jelek akan berpengaruh negative. Oleh karena itu sejak kecil anak dibesarkan oleh keluarga dan untuk seterusnya. Sebagian besar waktunya adalah didalam keluarga maka sepantasnya kalau kemungkinan timbulnya delinquency  itu sebagian besar juga berasal dari keluarga.[16]
William J. Goode mendefinisikan keluarga adalah satu – satunya lembaga sosial, disamping agama yang secara resmi telah berkembang disemua masyarakat. Istilah struktur sosial dalam ilmu antropologi sering kali dipergunakan dalam pengertian struktur keluarga dan kekeluargaan.[17] Munandar Soelaeman mengatakan Bentuk keluarga terdiri dari seorang suami, seorang istri, dan anak-anak yang biasanya tinggal dalam satu rumah yang sama (disebut keluarga inti). Secara resmi biasanya selalu terbentuk oleh adanya hubungan perkawinan.[18]
Seorang anak atau remaja memerlukan tuntunan orang tua, saudara-saudaranya maupun kerabat dekatnya, mereka membutuhkan pengarahan, perhatian serta kepedulian dari keluarganya. Seperti apa yang dikatakan Soerjono Soekanto membiarkan anak-anak remaja bersikap tindak semaunya juga buruk dan tidak benar. Mereka memerlukan tuntunan orang tua, saudara-saudaranya maupun kerabat dekatnya; akan tetapi tuntunan itu tidak diperolehnya. Lingkungan yang berpola pikiran demikian juga tidak menghasilkan pengaruh yang menunjang tumbuhnya motivasi dan keberhasilan studi, karena dilepas begitu saja.[19]
Menurut teori Durkheim kenakalan remaja disebabkan ketidak berfungsian sebuah organisasi yang dalam hal ini adalah organisasi keluarga.[20] Hubungan antara sikap keluarga dalam pendidikan anaknya dengan tingkat kenakalan. Salah satu sebab kenakalan disebutkan pada kerangka konsep di atas adalah sikap keluarga dalam mendidik anaknya. Mereka yang orang tuanya otoriter overprotection kurang memperhatikan dan tidak memperhatikan sama sekali dalam pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak.
Hubungan antara interaksi keluarga dengan lingkungannya dengan tingkat kenakalan Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Oleh karena itu mau tidak mau harus berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Adapun yang diharapkan dari hubungan tersebut adalah serasi, karena keserasian akan menciptakan kenyamanan dan ketentraman. Apabila hal itu dapay diciptakan, hal itu merupakan proses sosialisasi yang baik bagi anak-anaknya. Mereka yang berhubungan serasi dengan lingkungan sosialnya bagi keluarga yang kurang dan tidak serasi hubungannya dengan tetangga atau lingkungan sosialnya mempunyai kecenderungan anaknya melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat yaitu kenakalan khusus dari keluarga yang interaksinya dengan tetangga kurang atau tidak serasi.
1.        Bentuk-Bentuk Kenakalan Remaja
Dalam hal ini ada beberapa pendapat tentang macam-macam dan bentuk dari kenakalan remaja, antara lain:
a.    Berdasarkan akibat yang ditimbulkan
Menurut Sarlito Wirawan membagi menjadi empat jenis atau bentuk kenakalan remaja dengan berdasarkan pendapat Jensen adalah:
1)      Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, seperti: perkelahian, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, dan sebagainya.
2)      Kenakalan yang menimbulkan korban materi, seperti: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan sebagainya.
3)      Kenakalan yang sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain, seperti: pelacuran, penyalah gunaan obat, di Indonesia termasuk juga hubungan seks sebelum nikah.
4)      Kenakalan yang melawan status, seperti: mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah orang tua, dan sebagainya.[21]

b.    Berdasarkan Sikap dan Corak Perbuatan
Kenakalan remaja jika ditinjau dari segi sikap dan corak perbuatan, menurut Sudarsono dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:
1)      Delequent sosiologis, yaitu: apabila anak memusuhi seluruh konteks kemasyarakatan kecuali konteks masyarakat atau kelompoknya sendiri. Dalam kondisi tersebut kebanyakan anak tidak merasa bersalah bila merugikan orang lain, asal bukan dikelompoknya sendiri atau tidak merasa berdosa walau mencuri hak milik orang lain asal bukan kelompok sendiri yang dirugikan.
2)      Delequent individual, yaitu: apabila anak itu memusuhi orang, baik tetangga, kawan, dalam sekolah atau sanak saudara bahkan termasuk kedua orang tuanya sendiri.[22]
Dari beberapa pendapat ahli tersebut, dapat diambil kesimpulan tentang berbagai macam kenakalan remaja menjadi dua bagian besar, yaitu:
1.      Kenakalan yang bersifat asosial yang belum sampai kepada pelanggaran hokum positif.
2.      Kenakalan yang telah melanggar hokum positif dan termasuk tindakan kejahatan criminal.
Mengenai macam-macam dan bentuk kenakalan remaja di sepanjang zaman tetap ada saja, hanya frekuensi dan akibat-akibatnya pada masa sekarang, zaman teknologi modern ini agak meningkat sesuai dengan kemajuan tersebut.
2.        Faktor-faktor yang Memengaruhi Kenakalan Remaja
a.       Faktor Internal
Pada masa adolesen pertama, kegoncangan itu disebabkan oleh tidak mampu dan tidak mengertinya akan perubahan cepat yang sedang dilaluinya, disamping kekurangan pengertian orang tua dan masyarakat sekitar akan kesukaran yang dialami oleh remaja, waktu itu. Bahkan kadang-kadang perlakuan yang mereka terima dari lingkungan keluarga, sekolahdan masyarakat, menambah goncangnya emosi yang sedang tidak stabil itu.[23]
Anak-anak delinkuen itu melakukan banyak kejahatan didorong oleh konflik batin sendiri. Jadi mereka “mempraktikkan” konflik batinnya untuk mengurangi beban takanan jiwa sendiri lewat tingkah laku agresif, impulsive dan primitive. Karena itu kejahatan mereka pada umumnya erat berkaitan dengan temeperamen, konstitusi kejiwaan yang galau semraut, konflik batin dan frustasi yang akhirnya ditampilkan secara spontan keluar.[24]
Dengan demikian pesatnya usaha pembangunan, modernisasi, urbanisasi dan indrustrialisasi yang berakibat semakin kompleksnya masyarakat sekarang, semakin banyak pula anak remaja yang tidak mampu melakukan penyesuaian diri terhadap perbagai perubahan sosial itu. Mereka lalu mengalami banyak kejutan, frustasi, konflik terbuka baik eksternal maupun internal, ketegangan batin dan gangguan kejiwaan. Apalagi oleh semakin banyaknya tuntutan sosial, sanksi-sanksi dan tekanan sosial atau masyarakat yang meraka melawan dorongan kebebasan mutlak dan ambisi mereka yang sedang menggebu-gebu.[25]
b.      Faktor Eksternal
Delinkuensi yang dilakukan oleh anak-anak, para remaja dan adolesens itu pada umumnya merupakan produk dari konstitusi defektif mental orang tua, anggota keluarga dan lingkungan tetangga dekat, ditambah dengan nafsu primitive dan agresivitas yang tidak terkendali. Semua itu mempengaruhi mental dan kehidupan perasaan anak-anak muda yang belum matang dan sangat labil. Di kemudian hari proses ini berkembang menjadi bentuk detektif secara mantal sebagai akibat dari proses pengkondisian oleh lingkungan sosial yang buruk jahat.[26]
        Selain hal di atas, pola tingkah laku orang tua, atau salah satu anggota keluarga dengan mencetak pola criminal anggota keluarga lainnya. Oleh karenanya, tradisi, sikap hidup, kebiasaan dan filsafat hidup keluarga besar berpengaruh dalam membentuk tingkah laku dan sikap setiap anggota keluarga. Dengan kat alain, tingkah laku criminal orang tua mudah sekali berdampak pada anak-anaknya, bagi kualitas rumah tangga atau kehidupan yang berantakan disebabkan kematian ayah atua ibu, perceraian di antara orang tua, hidup terpisah, dan keluarga yang diliputi konflik. Semua itu merupakan sumber yang subur untuk memunculkan kenakalan anak remaja. Dan efeknya dapat menimbulkan :
a)      Anak kurang mendapat perhatian, kasih sayang dan tuntunan pendidikan orang tua.
b)      Kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis menjadi tidak terpenuhi, keinginan dan harapan anak tidak disalurkan dan mendapatkan konpensasinya.
c)      Anak tidak pernah mendapatkan lahan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk hidup susila. Mereka tidak dibiasakan dengan disipiln dan control dir yang baik.[27]
Indikasinya dari ketiga bentuk pengabdian di atas, yaitu keluarga yang selalu membentuk masalah psikologis. Konflik terbuka dan tertutup menjadi liar dan melakukan perbuatan-perbuatan kriminal sebagai akibat dari kekacauan rumah tangga.
Maka secara umum dapat dinyatakn bahwa, situasi dan kondisi lingkungan awal kehidupan anak untuk keluarga (orang tua dan kerabat dekat), cepat memengaruhi pembentukan pola kenakalan remaja. Kualitas dan agresifitas dari perilaku kriminal remaja pada hakikatnya merupakan produk kebiasaan keluarga yang tidak terpuji. Anak lalu menolak norma dan konvensi pergaulan hidup yang umum sehingga menjadi kriminal.[28]
Keluarga merupakan sekolah pertama dalam pembinaan akhlak atau moral anak. Oleh karena itu, dalam hal menciptakan atau mengader anak dan remaja menjadi baik, dituntut peran orang tua yang ideal dan harmonis dalam keluarga. Dalam setiap masyarakat pasti akan dijumpai keluarga batih (nuclear family), dimana keluarga tersebut merupakan kelompok sosial kecil yang terdiri dari suami, istri, beserta anak-anak yang belum menikah, keluarga batih tersebut lazimnya juga disebut rumah tangga, yang merupakan unit terkecil dalam masyarakat sebagai wadah dan proses pergaulan hidup.[29]
Karena itulah baik dan buruknya struktur keluarga sangat menentukan terhadap baik buruknya perilaku dan karakter anak-anak dan remaja. Sikap ayah ibu atau salah seorang dari keluarga mudah menular terhadap perkembangan anak-anak. Sikap pemarah, sewenang-wenang serta kriminal dan kekerasan dalam rumah tangga sangat berpengaruh terhadap terciptanya karakter anak. Kualitas rumah tangga memainkan peran penting dalam membentuk kenakalan remaja.
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa keluarga baik akan memberikan pengaruh positif terhadap anak-anaknya. Keluarga yang buruk akan memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan anak.[30]
Keluarga sebagai penyebab munculnya kenakalan remaja disebabkan karena keluarga merupakan awal mula pembentukan watak dan karakter seorang anak, baik dan buruk sebuah keluarga sangat memengaruhi watak dan karakter anak. Jika kita melihat realitas kehidupan dewasa ini, tidak sedikit sikap orang tua dalam pembinaan moral anak dan remaja bersikap cuek atau apatis. Di kota-kota besar misalnya, anak diberikan kebutuhan-kebutuhan jasmani, namun rohani diabaikan, anak hanya diberikan ilmu pendidikan umum atau teknologi tetapi tidak diberikan ilmu agama atau akhlak dan moral yang baik.[31]
a)      Pekerjaan orang tua
Dewasa ini, acapkali generasi muda mengalami kekosongan lantaran kebutuhan akan bimbingan langdung dari orangtua tidak ada atau kurang. Hal ini disebabkan karena orang tua harus mencari nafkah, sehingga tidak ada waktu sama sekali untuk mengasuh anak-anaknya. Sedangkan pada keluarga mampu, persoalannya adalah karena orang tua terlalu sibuk dengan urusan-urausan di luar rumah dalam rangka mengembangkan prestise. Keadaan tersebut ditambah lagi kurangnya tempat-tempat rekreasi, atau bila tempat-tempat tersebut ada biayanya mahal. Perumahan yang tidak memenuhi syarat, tidak mampunya orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya.[32]
Bagi keluarga yang hanya sibuk mencari nafkah untuk memenuhi keburtuhan keluarganya, sehingga kurang ada perhatian pada sosialisasi penanaman nilai dan norma-norma sosial kepada anak-anaknya. Akibat dari semua itu maka anak-anaknya lebih tersosialisasi oleh kelompoknya yang kuarang mengarah pada kehidupan yang normatif.


b)      Keutuhan keluarga
Hubungan antara keutuhan keluarga dengan tingkat kenakalan remaja secara teoritis dapat berpengaruh terhadap kenakalan remaja. Artinya banyak terdapat anak-anak remaja yang nakal datang dari keluarga yang tidak utuh, baik dilihat dari strukutur keluarga maupun interaksinya di keluarga. Namun, ketidak utuhan sebuah keluarga bukkan jaminan juga karena ada mereka berasal dari keluarga yang utuh melakukan kenakalan bahkan kenakalan khusus. Begitupun dengan tingkat interaksi keluarga memengaruhi kenakalan remaja, bagi keluarga yang interaksinya baik maka pengaruhnya baik begitupun sebaliknya. Jadi ketidak berfungsinya keluarga untuk menciptakan keserasian dalam interaksi mempunyai kecenderungan anak remajanya melakukan kenakalan. Artinya semakin tidak serasi hubungan atau interaksi dalam keluarga tersebut tingkat kenakalan yang dilakukan semakin berat, yaitu pada kenakalan khusus.
Pada umumnya para remaja sangat mengharapkan perhatian, pengertian dan penghargaan orang tuanya disamping kasih sayang yang wajar, mereka tidak ingin mendapatkan kasih saying berlebih-lebihan, apa yang diminta langsung diberikan dan pergi kemana-mana dibolehkan.[33] Anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua selalu merasa tidak aman, merasa kehilangan tempat berlindung dan tempat berpijak. Di kemudian hari mereka akan mengembangkan reaksi dan sikap bermusuhan terhadap dunia luar.[34]
c)      Sikap orang tua dalam mendidik
Hubungan antara sikap orang tua dalam pendidikan anaknya dengan tingkat kenakalan. Salah satu sebab yang disebutkan di atas dalah sikap ornag tua dalam mendidik anaknya. Mereka yang orang tuanya otoriter overprotection kurang memperhatikan dan tidak memperhatikan sama sekali dalam pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak.
Suatu ciri remaja ialah ingin bebas dan terlepas dari setiap kekuasaan, terutama dari orang tua yang bersifat otoriter, suka memaksakan pendapat, melarang dan menyuruh sepanjang hari. Walaupun pada masa sebelum remaja (anak-anak) mereka patuh tanpa komentar. Akan tetapi, setelah mereka memasuki masa remaja, dan tubuhnya telah menyerupai orang dewasa, maka pandangan mereka terhadap kekuasaan orang itu menjadi berubah, mereka merasa ingin bebas dan terlepas dari belenggu orang tua.[35] Anak-anak yang diliukuaen neurotik biasanya mempunyai latar belakan familial religious yang ketat dan fantastic, dalam mana penghayatan diri pribadi mengenai ketidakberhargaan personal (perasaan-perasaan inferior) anak diperkuat oleh disiplin keras dan fanatisme religius orang tua meraka. Pada umumnya, remaja nakal tipe ini menderita gangguan kejiawaan yang cukup serius, antara lain berupa kecemasan, merasa selalu tidak amman, merasa bersalah dan berdosa dan lain sebagainya.[36]
Remaja lebih banyak memerlukan pengertian saripada sekedar pengetahuan saja, dia harus mengerti mangapa manusia tidak boleh terlalu bebas dan juga tidak boleh terikat (disiplin). Memang, orang tua kadang-kadang lebih mementingkan disiplin atau keterikatan daripada kebebasan, sedangkan remaja lebih menyukai kebebasan daripada disiplin atau keterikatan. Namun, manusia memerlukan keduanya dalam keadaan yang serasi; manusiayang terlalu disiplin hanya akan menjadi “robot” yang mati daya kreativitasnya, sedangkan manusia yang terlalu bebas akan menjadi makhluk lain (yang bukan manusia).[37]
Hubungan antara interaksi keluarga dengan lingkungannya dengan tingkat kenakalan keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, oleh karena itu mau tidak mau harus berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Adapun yang diharapkan dari hubungan tersebut adalah serasi, karena keserasian kan menciptakan kenyamanan dan ketentraman. Apabila hal itu dapat diciptakan, hal itu merupakan proses sosialisasi yang baik bagi anak-anaknya. Namun, bagi keluarga yang kurang dan tidak serasi hubungannya dengan tetangga atau lingkungan sosialnya mempu nyai kecenderungan anaknya melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat yaitu kenakalan khusus yakni kenakalan yang muncul dari keluarga yang interaksinya dengan tetangga kurang atau tidak serasi.
Anak atau remaja yang diharuskan belajar terus-menerus atau dibebani dengan kewajiban mengikuti pelajaran tambahan atau ketrampilan tertentu, akan mengakibatkan kebosanan, sehingga pekerjaan tersebut dianggapnya sebagai kegiatan rutin belaka. Dia tidak sempat mengenyam kebebasan berpikir, oleh karena selalu dibebani dengan keterikatan, di man orang tua senantiasa memegang peranan yang menentukan di dalam mengambil keputusan-keputusan. Anak atau remaja tersebut hanya dilatih untuk berpikir semata-mata, tanpa mendidiknya untuk senantiasa menyerasikan pikiran dengan perasaan.
Membiarkan anak atau remaja bersikap atau bertindak semaunya juga buruk dan tidak benar. Merka memerlukan tuntunan orang tua, saudara-saudaranya maupun kerabat dekatnya, akan tetapi tuntunan itu tidak diperolehnya. Lingkungan yang berpola pikiran demikian juga tidak menghasilkan pengaruh yang menunjang tumbuhnya motivasi dan keberhasilan studi, karena dilepas begitu saja.[38]
2)      Faktor Lingkungan
Jumlah remaja di kalangan masyarakat tani sangat sedikit jika dibandingkan dengan remaja kriminal yang ada kota, khususnya kota besar dan ibukota, perbandingan jumlah tersebut kira-kira 1:10 ini karena factor banyaknya penduduk yang tidak begitu banyak di desa di banding di kota. Semakin berkurang pula dengan ketatnya control sosial, dan besarnya kohesi di antara lembaga penegak hokum dan keagamaan dengan penduduk desa seperti polisi, LKMD, KORAMIL, dll.[39]
Masyarakat bisa menjadi penyebab munculnya kenakalan remaja terutama dalam situasi sosial yang tidak begitu ketat dengan pengawasan norma dan ajaran-ajaran agama. Situasi masyarakat yang sangat potensial dalam menyebabkan kenakalan remaja adalah pertama, kurangnya pelaksanaan ajaran-ajaran agama secara konsekuen. Kedua, masyarakat yang kurang memperoleh pendidikan. Kurangnya pendidikan para orang tua dan masyarakat menyebabkan mereka gagal dalam memahami karakter anak-anaknya. Sehingga kadang anak lebih pintar dari orang tuanya dan menyebabkan para orang tua sering kali dibohongi oleh anak-anaknya. Ketiga, adanya pengaruh dari luar. Pengaruh dari luar bisa berupa pengaruh dari Barat atau masyarakat kota melalui TV, film dan pergaulan sosial. Karena kuatnya pengaruh dari luar sehingga norma-norma asli seperti agama dan norma sosial di anggap bertentangan dengan keinginan mereka.[40]
Pada dasarnya kemiskinan mengakibatkan bahaya besar bagi jiwa manusia sebab adanya perbedaan yang sangat mencolok tersebut akan mempengaruhi kestabilan mental manusia di dalam hidupnya, termasuk perkembangan mental anak-anak remaja. Tidak jarang anak remaja dari keluarga miskin yang memiliki perasaan rendah diri sehingga terdorong untuk melakukan kejahatan terhadap hak milik orang lain,seperti :pencurian, penipuan, penggelapan, pengrusakan, dan pengendoran[41]
Jadi, anak atau remaja dari keluarga yang kurang mampu kebanyakan terjerumus ke dalam kehidupan yang tidak normatif. Kerna seperti apa yang telah dipaparkan di atas anak-anak remaja dan keluarga yang kurang mampu yang memiliki perasaan rendah diri mereka akan terdorong untuk melakukan kejahatan.
Seiring dengan kemajuan manusia di bidang ilmu penegtahuan dan teknologi pada Era globalisasi telah membawa perubahan yang besar pada sektor kehidupan manusia di dunia. Hal ini dapat dilihat dari cepatnya laju informasi dan transparasi berbagai aktifitas dari semua kalangan baik yang bersifat lokal maupun internasional. Dampaknya, apa yang terjadi di suatu negara dapat dengan mudah dilihat dan di akes oleh komunitas manusia di semua kalangan. Begitu pula kemajuan IPTEK telah memudahkan umat manuasia untuk mendeteksi dan mengadopsi peristiwa yang terjadi di belahan dunia yang satu dengan dunia yang lain dalam waktu ynag relatif singkat.[42]
Dengan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan sistem informasi, kadang-kadang tontonan yang berupa gambar-gambar porno akan memberi rangsangan seks bagi anak-anak remaja. Rangsangan seks tersebut lebih banyak menimbulkan pengaruh negatif terhadap perkembangan mental anak remaja. Memang harus diakui bahwa hiburan film termasuk video casette ada kalanya memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan mentak anak. Akan tetapi di sisi lain hiburan-hiburan tersebut dapat memberikan pengaaruh yang tidak menguntungkann terhadap mereka sendiri. Dalam hal ini dapat ditarik contoh yang sangat sederhana, misalnya: film detektif yang memiliki fugur penjahat sebagai peran utamanya, atau film-film silat yang penuh dengan adegan –adegan perkelahian. Adegan-adegan tersebut akan mudah mempengaruhi perilaku anak remaja dalam kehidupanya dam mendorong mereka menjadi deliquent.[43]
Indikasi lain yang dihasilkan dari kemajuan IPTEK tersebut adalah adanya akulturasi budaya yang saling memngaruhi berbagai corak kebudayaan, adat istiadat, termasuk bahasa, sistem nilai dan juga sikap. Jadi, tidak mustahil dalam keadaan seperti ini muncul ketidakserasian dan ketegangan yang berdampak negatif dalam lingkingan pergaulan[44]. Karena perbedaan budaya masing-masing antara satu dengan lainnya, juga aspek lain yang dapat dilihat faktor lingkungan sosial, relligi dan sebagainya.
Lebih jauh lagi, dengan semakin transparannya dunia saat ini bearti telah hilang sekat0sekat yang membatasi budaya dan bangsa. Terutama sekali menggambarkan bahwa adanya ketidakberesan terutama sekali terjadi pada individu dalam pergaulan baik lingkungan keluaraga, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Hampir setiap hari ada kejadian-kejadian yang membosankan untuk didengar. Kasus-kasus keluaraga semakin semrawut sehingga menimbulkan penghianatan suami istri, para gadis yang kebobolan dan hamil sebelum  nikah, kekejaman orang tua terhadap anak dan lain sebagainya. Semua itu disebabkan oleh ketegangan anak, sehingga menimbulkan stres yang menimpa manusia.[45]
Dalam realitanya nilai-nilai baik dalam perkembangan IPTEK tersebut tidak bisa diadopsi secara baik terutama bagi kalangan remaja bahkan tidak jarang menyebabkan kerusakan bagi mereka. Justru, berdampak negatif, yakni moralitas remaja jadi iku mabruk, disebabkan usia dan kematangan psikologinya belum mampu mengehadapi suatu perubahan dalam kehidupan, yang apada akhinya menimbulkan dampak negatif pada dirinya.
Suatu bimbingan yang dilahirkan secara persuasif bukan indoktrinasi, karena masa remaja dihiasi faktor-faktor emosional yang sangat tinggi, tanpa adanya bimbingan yang benar, akan terdaji kesuliatan dalam komunikasi dengan orang tua,kerabat, tetangga, grur disekolah dan seterusnya. Maka terjadi frustasi yang mungkin mengakibatkan stres, sehingga terjerumus kelembah narkotika, minuman keras, pergaulan bebas dan lain sebagainya.[46]
Masalah tersebut semakin parah seiring masuknya unsur-unsur budaya lain yang bersifat negatif seperti pergaulan bebas, porografi sebagai akibat dari perkembangan zaman. Dan hal ini menjadikan para remaja menegnal tatacara hidup mereka sehingga gaya hidup remaja terpengaruhi oleh gaya hidup mereka.
Untuk memperbaiki kondisi iniorang tua sebagai pembentuk kepribadian anak yang pertama, dan sebagai linkungan terdekatnya mencari solusi dan dan megarahkan pada kehidupan yang lebih baik agar anak tidak terjerumus kedalam pergaulan yang justru bisa membawa sifat distriktif terhadap jiwa dan masa depan mereka sendiri.

F.     Metode Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian dalam skripsi ini dalah lapangan (field research), karena sumber datanya di lapangan, dalam hal ini datanya adalah kusu kenakalan remaja yang terjadi di Desa Sidokerto dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Untuk kemudian dideskripsikan dan dianalisis sehingga dapat menjawab persoalan yang telah dirumuskan dala pokok masalah.
2.      Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di desa Sidokerto Kecamatan Wedung Kabupaten Demak. Cdesa Sidokerto merupakan desa yang agamis agama masyarakatnya sangat kuat itu semua dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan agaama yang sering diadakan dimoshola-mushola dan di masjid-masjid baik yang harian maupun yang mingguan. Namun mengapa sebagian besar remaja Desa Sidokerto melakukan penyimpangan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan di Desa Sidokerto kerena penulis ingin mengetahui faktor apa yang memengaruhi kenakalan remaja di Desa Sidokerto.
3.      Sumber Data
Sebagai sumber data primer dalam penelitian ini, sebelumnya penulis melakukan pemilihan simple, pertama-tama yang dilakukan adalah dengan melihat kondisi masyarakat Desa Sidokerto.baik daqri tingkat perekonomian( matapencaharian ), perumahannya dibawah standart, kondisi penduduk yang padat dan lingkungan yang kurang teratur. Setelah itu konsultasi dengan ketua rukun warga RW dan ketua rukun-rukun tetangga (RT) untuk mendapat informasi yang jelas tentang warganya (remaja) yang dianggap telah melakukan kenakalan. Wilayah Sidokerto memeiliki dua RW, yaitu RW 1 dan 2, dan dari masing-masing dua RW tersebut memiliki beberapa RT. RW 1 memiliki tiga RT, yakni RT 1,2,3 dan RW 2 memiliki enam RT, yakni RT 1,2,3,4,5 dan 6. Dan jumlah remaja yang ada di Desa Sidokerto sebanyak 400 orang. Yang terdiri dari 200 remaja perempuan dan 200 remaja laki-lkaki. Disisni penulis hanya mengambil 8 remaja untuk menjadi responden, diantaranya: 6 6 laki-laki dan 2 perempuan. Delapan remaja ini peni=ulis rasa sudah mewakili dari remaja yang nakal lainnya, karena delapan remaja ini hampir hari melakukan kenakalan. Dengan alasan agar data yang didapat lebih fokus dan tidak meluas kemana-mana, responden remaja dalam penelitian ini ditentukan bagi mereka yang berusia 13-21 tahun. Mengingat pengertian anak dalam undang-undang no 4 tahun 1979 anak adalah mereka yang berumur sampai 21 tahun. Dengan pertimbangan pada usia tersebut, terdapat berbagai masalah dan krisis di antaranya : krisi identitas, kecanduan narkotik dan minuman keras, kenkalan, tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah, konflik mental dan terlibat kejahatan.
Sedangkan sumber data sekunder, peneliti dapatkan dari dta-data tentang kenkalan remaja baik berupa paper, berita media cetak, maupun foto-foto yang dianggap representatif untuk dijadikan bahan analisa dalam penelitian.
4.      Teknik Pengumpulan Data
a.       Observasi/pengamatan
Pengumpulahn data digunakan dengan metode pengamatan dan keterlibatan langsung. Dalam pengematan ini diusahakan mampu membaca bagaimana situasi pergaulan remaja kendalasem dalam kesehariannya. Dalam keterlibatan langsung diusahakan pula ikut berkumpul atau bergabung bersama-sama para remaja kendalasem. Setidaknya setiap malam minggu atau hari libur dan atau pada saat-saat tertentu dari awal sampai selesai, sehingga dapat memahami poko permasalahan terhadap  hubungan kelua dengan kenakalan yang dilakukan para remaja di Kendalasem Demak.
b.      Wawancara
Wawancara ini dilakukan dalam pengumpulan dat. Penulis melaksankan wawancaracdengan cara berdialog atau bertanya secara langsung dengan melibatakan bebrapa anak dan orang tua srta terhadap pihak=pihak yang terkait dengan orang tua seperti kerabat dekatnya. Delam wawancara yang penulis lakukan bertujuan untuk mendapatkan beragam keterangan dengan cara mengajukan beragam pertanyaan, sehingga dapat diketahui permasalahan yang terjadi.
c.       Dokumentasi
Dokumentasi adlah sebuah laporan tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri dari penjelasan dan pikiran peristiwa itu, dan tertulis dengan sengaja untuk menyimpan atau meneruskan keterangan mengenai peristiwa tersebut. Dengan adanya dokumen ini dapat digunakan sebagai sumber data yang dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan bahkan meramalkan.[47]
5.      Teknik Analisis Data
Tahap data merupakan tahapan yang sangat menentukan aspek penelitian berhasil atau tidak. Menurut Schaltb dan Straus tujuan penafsiran data ada tiga jenis, yaitu deskripsi semata-mata, deskripsi kualitatif atau analitik dan deskripsi substantif. Penelitian ini bersifat deskripsi kualitatif, yaitu berusaha menggambarkan dan menjelaskan hubungan kenakalan remaja dengan keberfungsian komunikasi keluarga. Analisis deskriptif kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan model yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman, yaitu analisis interaktif. Dalam analisis ini, data yang diperoleh dilapangan disajikan dalam bentuk narasi.[48]
Proses analisis datanya menggunakan  tiga sub proses yang saling berhubungan, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau veritifikasi. Melalui reduksi data yang meliputi seleksi dan pemadatan data, catatan dan rekaman lapangan dirinngkas dan disederhanakan, diberi tanda dan dikelompokkan. Data-data tersebut kemudian ditampilkan dalam bentuk gabunngan informasi dan ringkasan serta synopsis terstruktur dengan menggunakan teknik penalaran atau berpikir secara induktif dan deduktif. Langkah selanjutnya penarikan kesimpulan dan verifikasi data. Ini mencakup proses pemaknaan dan penafsiran data yang terkumpul.

G.    Sistematika Pembahasan
Penelitian ini terdiri dari empat bab dan beberapa sub bab yang saling berhubungan, yaitu:
Bab pertama, pendahuluan yang meliputi latar belakang, yaitu penjelasan mengenai sisi penting yang dijadikan sebagai alasan utama pengangkatan tema yang akan diteliti. Dalam bab ini peneliti juga menjelaskan tentang rumusan masalah yang akan diteliti, tujuan dan kegunaan penelitian. Sebagai pedoman dasar, dalam bab 1 ini juga terdapat kajian pustaka yang berisi penelitian yang relevan dan landasan teori. Selain itu, terdapat metodologi penelitian yang membahas metode yang digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan dan menganalisa data. Dibagian akhir, sistematika pembahasan dan kerangka skripsi yang menggambarkan sistematika penyusunan skripsi ini.
Bab dua, dalam bab ini berisi tentang gambaran umum Desa Kendalasem yang terdiri dari dari profil wilayah Desa Kendalasem yang menggambarkan kondisi Desa Kendalasem yang meliputi kondisi sosial, kondisi ekonomi, kondisi keagamaan, dan kondisi pendidikan, dan berisi tentang profil remaja.
Bab tiga, memaparkan pelaksanaan penelitian, hasil penelitian dan pembahasannya, yakni mengutarakan tentang analisis faktor-faktor yanng mempengaruhi kenakalan remaja di Desa Kendalasem yanng meliputi faktor internal dan faktor eksternal.
Bab empat,penutup, yaitu berisi tentang kesimpulan dari keseluruhan isi skripsi dengan memberikan sedikit Saran-saran.





BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat penulis ambil dari hasil penelitian ini adalah bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi kenakalan yang dilakukan oleh remaja Desa Kendalasem yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal yang mempengaruhi kenakalan remaja di Desa Sidokerto adalah adanya jiwa remaja yang belum mampu untuk mengontrol dirinya dalam menghadapi konflik batinnya yang sedang dihadapi, sehingga mereka mempraktekan perilaku yang menyimpang dalam masyarakat.
Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi kenakalan remaja di Desa Sidokerto adalah yang disebabkan oleh keluarga dan faktor lingkungan. Ada tiga faktor yang memengaruhi kenakalan remaja Desa Sidokerto yang disebabkan oleh keluarga yaitu faktor yang disebabkan oleh pekerjaan orang tuanya, keutuhan keluarganya, dan sikap orang tuanya dalam mendidik.
Sedangkan faktor yang memengaruhi kenakalan remaja Desa Sidokerto yang disebabkan oleh lingkungan, yaitu akibat dari terpengaruh oleh pergaulan dengan teman sebaya, masuknya budaya luar melalui teknologi komunikasi, dan kurangnya aktifitas yang dimiliki oleh remaja Desa Sidokerto.

B.     Saran-saran
1.      Bagi orang tua, diharapkan untuk memberikan perhatian, pengertian, dan arahan atau bimbingan terhadap anaknya secara tepat dan bijaksana.
2.      Tokoh masyarakat dan aparat desa, diharapkan untuk senantiasa memberikan pencerahan, wejangan (nasehat), dan pengertian kepada remaja yang melakukan penyimpangan.
3.      Bagi remaja Desa Kendalasem, diharapkan untuk memperbaiki perilakunya yang selama ini yang melakukan perilaku yanng menyimpang dalam masyarakat.




DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, Ilmu Sosial Dasar, Jakarta: Rineka Cipta, 1997.
Agger, Ben, Teori Sosial Kritis, Kritik Penerapan dan Implikasinya, Mazhab
Frankfrut, Karl Max, Curtural Strudies, Teori Feminis, Derrida,
Postmodernitas, Yogyakarta : Kreasi Wacana. 2003.
As’syari, Musa, Dkk, Pemuda dan Perkembangan  IPTEK dan Perpektif Agama,
Yogyakarta, P.D. Hidayat, 1989.
Basri, Hasan, Remaja Berkualitas, Problem Remaja dan Solusinya, Yogyakarta :
pustaka pelajar, 1996.
Daradjat, Zakiah, Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia, Jakarta: Bulan
Bintang, 1997.
Goode. J.,Wiiliam, Sosiologi Keluarga, terj. Lailahanoum Hasyim, Jakarta: Bumi
Aksara, 1983.
Gunarso, Singgih, Bunga rampai Psikologi Perkembangan Dari Anak Sampai
Usia Lanjut. Jakarta : Gunung Mulia, 2004
                     . Psikologi Remaja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986.
                 Psikologi  Perspektif Anak Remaja dan Keluarga, Jakarta: Gunung
Mulia, 1995.
Kartono, Kartini, Patologi Sosial 2: Kenakalan remaja, Jakarta: Rajawali press,
1992.
Mapiare, Andi, Psikologi Remaja, Surabaya: Usaha Nasional 1982.
Miles, B., Matthew dan Huberman, Michael, A., Analisis Data Kualitatif, terj.
Tjeptep Rohendi Rohidi, Jakarta: UI press, 1992.
Moleong, J., Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Refisi, Bandung, 2005.
Sarwono, Wirawan, Sarlito, Psikologi Remaja, Jakarta: Grafindo Persada 2007.
Simanjuntak, B., Latar Belakanng Kenakalan Remaja, Bandung: Alumni, 1984.
Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2002.
                 . Sosiologi Keluarga Tentang Iklrwal Keluarga, Remaja dan
Anak, Orang Tua Ideal,Rineka Cipta, 2004.
Soelaeman, Munandar. M., Ilmu Sosial Dasar: Teori dan Konsep Ilmu Sosial.
Cet. 6. Bandung: Eresco. 1992.
Sudarsono. Etika IslamTentang Kenakalan Remaja. Jakarta: Rineka Cipta. 1993.
                  . Kenakalan Remaja Prevensi, Rehabilitas, dan
Resosialisasi.Jakarta: Rineka Cipta, 1995.
Toewana. Satya. Gangguan Penggunaan Zat Narkotika, Alkohol Dan Zat Adiktif ,
Jakarta: Gramedia
Willis, Sofyan. Problem Remaja dan Pemecahannya, Bandung: Angkasa, 1986.






SKRIPSI
P, Elfinda, “Hbungan Antara Kemampuan Mengontrol Diri dan Kecenderungan
Berperilaku Deliquensi Pada Remaja”,skripsi, Yogyakarta: Fak. Psikologi
UGM
Saragih Mashud, “Kenakalan Remaja Muslim dan Konteks
Perubahan Social di Desa Karangwuluh, Kecamatan Temon, Kabupaten
Kulonprogo” , Sosiologi Agama. Usaha UIN Sunan Kalijaga. 2005.
Wahyuni Rini, “Kenakalan Remaja Yogyakarta” , Sosiologi Agama, Ushuludin
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarata. 2009.
Warsito, Bimbingan dan Konseling Anak Remaja Nur Bani Sukemi, IKIP
Yogyakarta, 1992.


ARTIKEL
Tambunan, Raymond. Remaja dan NAPZA.www/webmaster @
psikologi_unter.com. 2001, diakses tgl 05-Oktober-2009.
Wangmuba, kenakalan remaja dan factor yang memengaruhinya,



[1] Andi Mapiare. Psikologi Remaja. (Surabaya: Usaha Nasional. 1982). Hlm. 16.
[2] Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2002). Hlm. 443.
[3] Ibid. hlm. 445.
[4] Warsito. Bimbingan dan Konseling Anak Remaja Nur bani Sukemi. IKIP Yogyakarta: 1992.
[5] Elfida P. “Hubungan Antara Kemampuan Mengontrol Diri dan Kecenderungan Berperilaku Deliquensi Pada Remaja”. Skripsi. (Yogyakarta: Fak: Psikologi UGM) hlm. 24.
[6] Mashud Saragih. “Kenakalan Remaja Muslim Dan Konteks Perubahan Social di Desa Karangwuluh, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo”. Sosiologi Agama. Ushuludin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2005.
[7] Rini wahyuni. “Kenakalan Remaja Yogyakarta”. Sosiologi Agama. Ushuludin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2009.
[8] Singgih Gunarso. Psikologi Remaja. (Jakarta: Gunung Mulia. 1986) hlm. 56.
[9] Kartini Kartono. Patalogi Sosial 2. (Jakarta : Raja Grafindo Persada. 2008). Hlm 25
[10] Sudarsono Kenakalan Remaja. (Jakarta: Rineka Cipta. 1995), hlm 124.
[11] B. Simanjutak. Latar Belakang Kenakalan Remaja. (Bandung: Alumni. 1984). Hlm 43
[12] Ibid hlm 44
[13] Sudarsono. Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja. (Jakarta: Rineka Cipta. 1993). Hlm. 5.
[14] Sudarsono. Kenakalan Remaja, Prevensi, Rehabilitas, dan Resosialisasi. (Jakarta: Rineka Cipta. 1995). Hlm. 114.
[15] Zakiah Dardjat, Membina Niali-Nilai Moral Di Indonesia. (Jakarta : Bulan Bintang,1997).hlm 10
[16] Sudarsono, Kenakalan Remaja. Prevensi, Rehabilitas dan resosialisasi, (Jakarta: Rieneka Cipta,1995) hlm 125
[17] William J. Goode. Sosiologi Keluarga. terj. Lailahanoum Hasyim. (Jakarta: Bumi aksara.1983). hlm.7.
[18] M. Munandar Soelaeman. Ilmu Sosial Dasar: Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Cet. 6. (Bandung: Eresco.1992). hlm.56.
[19] Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar. Ed. Baru 4. Cet.34.(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2002). hlm. 445.
[20] Wangmuba. Kenakalan Remaja dan Faktor yang Mempengaruhinya. http://Wangmuba.Com/2009/03/04/Kenakalan-Remaja-dan-Faktor-yang-Mempengaruhinya/. diakses tgl 02-Oktober-2009. Pukul: 08.13 WIB
[21] Sarlito Wirawan Sarwono. Psikologi Remaja. (Jakarta: Grafindo Persada.2007). hlm. 200-201
[22] Sudarsono. Kenakalan Remaja. (Jakarta: Rieneka Cipta.1990). hlm. 14
[23] Zakiah Darajat. Pembinaan Remaja. (Jakarta: Bulan Bintang. 1982). hlm.12
[24] Kartini Kartono. Patologi Sosial 2: Kenakalan…….hlm.27.
[25] Ibid.hlm.110.
[26] Kartini Kartono. Patologi Sosial 2 : Kenakalan Remaja.(Jakarta: Raja Grafindo Persada.2008).hlm.57
[27] Ibid. hlm.58-59.
[28] Ibid. hlm.64-65.
[29] Soerjono Soekanto. Sosiologi Keluarga Tentang Ikhwal Keluarga, Remaja dan Anak, Orang Tua Ideal. (Rineka Cipta. 2004). hlm.1.
[30] Sudarsono. Kenakalan Remaja. (Jakarta : Rineka Cipta. 1995). hlm. 125
[31] Soerjono Soekanto. Sosiologo Keluarga ……hlm.119
[32] Soerjono Soekamto. Sosiologi Suatu Pengantar. (Jakarta : Raja Grafindo. 2002) hlm.373
[33] Zakiah Daradjat. Pembinaan Remaja. (Jakarta : Bulan Bintang. 1975 ). Hlm. 21.
[34] Kartini Kartono. Patologi Sosial 2…….hlm.60
[35] Zakiah Daradjat. Problem Remaja di Indonesia. (Jakarta: Bulan Bintang. 1974). Hlm. 138-139.
[36] Ibid. hllm.63.
[37] Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar….hlm.444.
[38] Ibid.hlm.444-445
[39] Kartini Kartono. Patologi Sosial 2 : Kenakalan………..hlm.89.
[40] Sofyan F. Willis. Problem Remaja dan Pemecahannya. (Bandung: Angkasa. 1986).hlm.109
[41] Sudarsono. Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja, (Jakarta : Rineka Cipta. 1993). Hlm. 28

[42] Hasan Basri. Remaja Berkualitas. Problem remaja dan Solusinya. (Yogyakarta: pustaka pelajar. 1996) hlm. 4.
[43] Sudarsono. Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja………… Hlm. 30-31.
[44] Musa As’syari. Dkk. Pemuda dan Perkembangan IPTEK dan Perspektif Agama,(Yogyakarta. P.D. Hidayat. 1989). Hlm. 38-39.
[45] Singgih D. Gunarso. Psikologi Perspektif Anak Remaja dan Keluarga. (Jakarta: Gunung
Mulia. 1995). Hlm. 188.
[46] Soerjono Soekanto. Sosiologi Keluarga Tentang Ikhwal Keluarga dan Anak. (Jakarta: Rieneka Cipta. 1992). Hlm. 53.
[47] Lexy J. Moleong. Metidologi penelitian kualitatif. Edisi Revisi. (Bandung: 2005). Hlm. 217.
[48] Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman. Analisis Data Kualitatif. Ter. Tjeptjep Rohendi Rohidi. (Jakarta: UI press. 1992). Hlm. 16-19.

0 Response to "Kenakanlan pada remaja"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Pendidikan

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel